
Kakiku baru melangkah hendak menapak
Bahkan mungkin belum menyentuh tanah...
Ini adalah awal
awal dari sebuah awal...
18 October, 2009
Oktober 2009
Diposkan oleh
M. Najibur Rohman
di
Sunday, October 18, 2009
0
komentar
26 May, 2009
Repositioning Islam and West

After Black Tuesday 9/11 happened, media in the West often have written Islam with prejudice and pejorative. In their voguish lexicon has acquired only two meaning about Islam, both of them unacceptable and impoverishing. Islam represents the threat of a resurgent atavism and destruction democratic order in the Western world (Edward W. Said, 2005). Conversely, medias in much of Moslem country describe West as colonizer and bring a bad impact for them in economic, culture, geopolitics, etc.
Currently, Islam and West seem have good relation. Obama as a president of America that is most represented of West, to indicate a good will building of peace civilization especially between Islam and West. Last month (4/26), when Obama was visiting Turkey, he said that America had required relation with Islam not only based on terrorism or radicalism, but on pint interest and understanding.
Beside Obama, good relation between Islam and West have been dreaming by Paus Benediktus XVI from Vatican and King’s of Saudi Arabia Abdullah Ibn Abdul Aziz. When visited Palestine, after his visiting from Jordan and Israel (5/8-15), Paus gave a statement to make Jerusalem as a capital town where the followers of three Semitic religions could come there openly. It is same with expectation from King Abdullah. He criticized “Zion-isation” of Al-Quds –other name of Jerusalem- when visited Vatican.
Friendship or peace agenda which is brought by Obama, Paus Benediktus and King Abdullah Ibn Abdul Aziz, will reduce miss-understanding Islam and West. Of course this agenda need serious effort to spread of ideas of friendship and to influence of regulation in each country in the world from their leader. Significant part of this effort is reducing miss-understanding the media or press in their report, in West and Moslem media.
After Black Tuesday 9/11 happened, media in the West often have written Islam with prejudice and pejorative. In their voguish lexicon has acquired only two meaning about Islam, both of them unacceptable and impoverishing. Islam represents the threat of a resurgent atavism and destruction democratic order in the Western world (Edward W. Said, 2005). Conversely, medias in much of Moslem country describe West as colonizer and bring a bad impact for them in economic, culture, geopolitics, etc.
Here, repositioning Islam and West is needed. Firstly, class of civilization that was presented by Huntington or Fukuyama must be finished. The class will be changed with dialog, cooperation and understanding. Its mean that Islam and West are meeting to talk many problem was happened in the world then giving solution together. Thereby they have consensus of what Paul F. Knitter (2005) calls “the common responsibility”. For the moment where the world had been around a economic global crisis, cooperation between Islam and West will helped to ended.
Secondly, building healthy geopolitics. Its means that in international relations, countries from West and Moslem must have equal position like in United Nations. Proposal to eliminate right of veto must be observed again. If right of veto is remove, the future each countries in the world will feel having same of level so it will make policy in United Nations as together policies, not only policy or interest from superior nations or countries.
Thirdly, Hans Kung (1990) said that “without peace between religions there will be no peace between nations”. Kung’s statement has been describing to us that repositioning Islam and West are involving religious dialogue and reinterpreting petty religious doctrine. Therefore, pluralism and multiculturalism idea’s will be significant to build understanding Islam and West until grass roots society in the world.
Actually, human can’t choose where he will be birth; that is in East or West. So they are same; have a spirit, need of material, need of spirituality, etc. Repositioning Islam and West are returning our humanity (M. Najibur Rohman).
*Karena skrg lg belajar writing in English, siapapun yang baca tulisan ini mohon kasih komentar, mengenai salah atau tidaknya.
**Its my first article in English, any one please comment about all; grammar, etc. Thanks so much.
Diposkan oleh
M. Najibur Rohman
di
Tuesday, May 26, 2009
2
komentar
13 May, 2009
“Pig Influenza”
Sampai sekarang saya tidak tahu persis apa yang disebut sebagai flu babi dan penyebabnya. Jika dulu ada kasus flu burung dan disebabkan oleh hewan yang berbau “burung-burungan”, kemungkinan flu yang satu ini juga disebabkan oleh hewan babi, atau “babi-babian”. Atau mungkin itu juga sekadar penyebutan saja; karena pada kasus flu burung, semacam itik, angsa dan ayam juga menyebabkan penyakit yang sama.
Dengan kata lain, yang tampaknya agak-agak persis dengan babi adalah hewan seperti sapi, kambing atau mungkin juga rusa. Mungkin ini semacam pertarungan besar antara geng “aves” dan “mamalia”. Aves diketuai oleh burung dan mamalia diketuai oleh babi; karena biasanya sebutan-sebutan itu didasarkan pada nama pemimpinnya.
Mari kita imajinasikan,
Pada awalnya kedua geng ini terlibat pada pertarungan antar-geng di sebuah negara hewan yang maju. Geng-geng ini saling berambisi untuk menjadi yang terkuat dan memperoleh kursi pemimpin di antara mereka. Karena “aves” dan “mamalia” ini paling banyak diburu oleh manusia, maka kelompok kecil mereka memiliki pertahanan hidup yang paling baik di antara geng-geng.
Karena itulah kelompok elit kedua geng ini banyak melakukan serangkaian penelitian guna saling melumpuhkan. Suatu ketika geng “mamalia” yang diketuai oleh babi menemukan sejenis virus yang mematikan dan digunakan untuk menyerang geng “aves”. Karena belum memiliki pertahanan, pada akhirnya banyak geng “aves” yang terkena virus yang disebut influenza itu.
Pertama-tama yang dibidik oleh geng “mamalia” adalah ketua aves yakni si burung. Akibat virus itu, pada akhirnya burung terkena flu dan mati. Di seantero negara hewan kematian burung merupakan peristiwa besar dan penuh duka sehingga untuk mengenang namanya virus yang mematikan itu disebut sebagai flu burung.
Setelah si burung terkena flu, maka giliran selanjutnya adalah itik, ayam, angsa dan seterusnya. Mereka satu per satu banyak yang berguguran. Ternyata flu ini tidak hanya berbahaya bagi bangsa “aves” tetapi juga manusia. Yang pasti, wah..wah.. hebat geng “mamalia” yang diketuai babi. Ketika jumlah geng aves mulai berkurang akibat flu yang dikirim, praktis pemimpin sementara antar-geng di negara hewan adalah babi.
Di tengah penganugerahan babi sebagai pemimpin tertinggi antargeng di negara hewan, ternyata sekelompok “aves” telah melakukan rencana pembalasan. Mereka ini adalah sedikit ekor yang dapat bertahan dari ganasnya flu kiriman geng “mamalia”. Sedikit yang selamat ini terus menerus menelusuri asal muasal virus mematikan yang menjangkiti geng mereka dan pada akhirnya kebenaran ditemukan.
Mereka mencoba mengetahui jenis virus itu dan melakukan penelitian-penelitian. Dan saatnya telah tiba bagi geng “aves” yang tersisa melakukan pembalasan.
Saat babi berpidato di depan geng-geng untuk mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin tertinggi, geng “aves” yang tersisa menembakkan sebuah peluru berisi virus yang sama tetapi telah dimodifikasi oleh mereka dari jarak jauh dan wuuus….. si babi terkena. Babi terjatuh dan seketika itu mengalami flu yang hebat. Babi terus flu, flu, batuk, batuk, kemudian meriang, panas, semakin panas, dan akhirnya tewas. Sebagai penghormatan pula, para pemimpin geng menamakan virus itu sebagai flu babi.
Flu ini ternyata juga memiliki dampak yang sama terhadap manusia sebagaimana flu burung. Tapi hingga sekarang flu babi itu belum diketahui menular pada anak buang geng yang dipimpinnya dulu, sapi atau kambing misalnya. Tampaknya “aves” masih berbaik hati karena membalas perlakuan geng “mamalia” hanya kepada babi.
Saat ini, di negara hewan posisi antar geng sama meskipun geng “aves” dan “mamalia” mulai melemah. Geng “aves” banyak kehilangan anggotanya, dan “mamalia” saling berebut tahta untuk menggantikan sang babi.
Tetapi diam-diam geng-geng yang lain juga melakukan serangkaian penelitian dan ingin menjadi pemimpin para geng. Karena itulah sangat mungkin ke depan akan ada pertarungan yang lebih sengit antargeng di negeri hewan. Jenis flu-nya pun akan semakin berbahaya dan mematikan. Kita tunggu saja kemungkinan akan adanya “flu kodok” atau “flu kadal”. Maka bersiap-siaplah untuk mengikuti cerita pertarungan sengit antara geng “amphibi” dan geng “reptil” di episode selanjutnya.
Untuk dicatat, setelah babi berpulang kepada Tuhan, banyak manusia yang merasa aman menyimpan uangnya di rumah karena ancaman “babi ngepet” mereda.
Tapi jangan bangga dulu, karena kegemaran babi itu kemungkinan besar akan digantikan oleh manusia. Jadi, bolehlah disebut “manusia ngepet”!
Nun, ini sekadar imajinasi!
Jatisari,
10/5/2009
Diposkan oleh
M. Najibur Rohman
di
Wednesday, May 13, 2009
4
komentar
05 April, 2009
"Ngangsu" ke Belanda

Ngangsu adalah bahasa Jawa. Kalau ditranslit dalam bahasa Indonesia berarti mencari. Kalau ada orang bilang ngangsu kaweruh maka artinya menjadi mencari ilmu. Di desa saya kalau sedang musim kemarau banyak orang ngangsu ke sumur-sumur di dekat sungai karena sumber airnya yang masih lancar. Intinya, istilah ngangsu digunakan untuk mencari sesuatu yang bermanfaat untuk kita. Begitulah sederhananya.
Judul yang saya tulis di atas dengan demikian bermaksud mencari sesuatu ke negeri Belanda. Tentu bukan mencari air atau ngangsu banyu karena kita sudah punya, bahkan terkadang berlebih dan akhirnya banjir, tapi mencari pengetahuan atau studi di sana. Minimal pengetahuan yang harus dipelajari adalah bagaimana cara mengelola air agar tidak kebanjiran atau terkena rob karena negeri Belanda dikenal sebagai negeri kincir angin yang daratannya saja berada di bawah permukaan air laut.
Tapi tentu tidak hanya itu, banyak hal yang bisa diangsu dari Belanda. Konsep-konsep pembangunan masyarakat dan teknologi sangat ditekankan di Belanda sebagaimana ciri umum dari negara-negara maju. Kata Toffler (1998) kita sekarang ini sudah masuk di gelombang ketiga peradaban. Itu ditandai dengan dukungan hebat dari teknologi yang canggih, teknologi informasi, bioteknologi dan komputer.
Berbagai dukungan itu membuat dunia ini makin terbuka, mengglobal. Orang bisa menonton aksi Britney Spears atau Madonna di depan berhala kecil alias teve di rumah sambil minum kopi hangat. Orang dari berbagai belahan benua bisa berdiskusi atau sekadar guyonan karena ada fasilitas internet, chatting, facebook atau blog.
Pokoknya, globalisasi sudah mencampurbaurkan apa saja. Dari orang kulit putih sampai benar-benar hitam bisa saling mengenal, tapi juga berkompetisi. Karena keterbukaan, apalagi di era yang disebut-sebut orang sebagai pasar bebas, dari eksekutif perusahaan, buruh, tukang becak, tukang bakso, sampai tukang pijit pada saatnya nanti akan mengalami persaingan yang riuh. Kalau bagi saya yang penting sportif, tidak gontok-gontokan, sikut-sikutan, apalagi jotos-jotosan alias anarkis bin separatis.
Kalau sudah begitu maka ngangsu ke Belanda tadi menjadi penting. Menurut data yang beredar, 11 universitas terkemuka Belanda masuk dalam kategori 200 universitas terbaik dunia. Kalau sudah diakui, maka kualitas sudah pasti dijamin dan pengajaran di sana memang advanced. Ibarat makanan, studi di Belanda itu berkualitas dan tidak kadaluwarsa.
Sejak lama Belanda juga telah mengembangkan pendidikan internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Ini memang tidak aneh karena masyarakat Belanda sendiri adalah masyarakat yang penguasaan bahasa Inggrisnya paling bagus dibanding negara-negara Eropa non Inggris lainnya. Dengan kondisi ini maka Belanda ibarat miniatur komunitas global.
Ditambah lagi menurut peta dunia, karena saya belum pernah ke sana, Belanda berada di tengah-tengah daratan Eropa. Kalau sesuatu di tengah berarti menjadi berbagai ajang pertemuan dan pusat; bisa jadi temu budaya, temu agama, pengetahuan, ras dan lain-lain. Konon sejak pertengahan abad 17 kota Amsterdam itu telah menjadi pusat dagang di Eropa sehingga dalam ilmu-ilmu menejemen, bisnis dan ekonomi Belanda tetap menjadi rujukan utama hingga saat ini.
Temu agama dan budaya di Belanda menjadikan negara itu sebagai negara dengan tingkat toleransi dan multikulturalisme yang tinggi. Karena alasan ini banyak orang yang betah tinggal di Belanda lama-lama dan bahkan menetap, contohnya di Suriname yang merupakan anak turun Jawa. Hubungan sejarah kolonisasi juga menjadikan Belanda sebagai tempat yang penting menuju catatan-catatan penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini.
Yang tidak kalah penting karena letaknya di tengah itu, Belanda adalah tempat yang tepat untuk memulai perjalanan keliling Eropa. Letak negeri yang banyak bunga tulipnya ini sangat dekat dengan kota-kota dari negara lain seperti Brussel, Madrid, Paris maupun ke Berlin. Yang pasti pesona Belanda akan membuka lebar jalan kita dalam mengarungi diri sebagai komunitas global.
Nah loh?! Kalau sudah begini siapa yang tidak ingin ngangsu ke Belanda!
tags: kompetiblog, studi di Belanda
Diposkan oleh
M. Najibur Rohman
di
Sunday, April 05, 2009
5
komentar